Belakangan kita semakin sering mendengar kata 'smart' dihubungkan dengan banyak hal dan menciptakan istilah baru, contohnya: smart-phone, smart house, smart office, bahkan ada juga smart city. Kata 'smart' yang merupakan bahasa Inggris dari kata 'pintar' memang akhir-akhir ini lebih sering disematkan ke sejumlah benda. Kalau istilah smartphone sih, tentu sudah banyak yang tahu dan menganggapnya lumrah karena ponsel kita memang semakin canggih jeroannya, tapi bagaimana dengan yang lain? Bagaimana mungkin rumah, kantor, bahkan kota itu menjadi 'pintar'?
Kepintaran benda-benda ini, tentu tak jauh dari digunakannya AI yang ditanamkan pada masing-masing benda/obyek tersebut. AI memungkinkan benda-benda yang tadinya hanya benda mati jadi bisa berpikir. Ya, berpikir seperti manusia. AI adalah singkatan dari Artificial Intelegence atau biasa diterjemahkan Kecerdasan Buatan, pertama kali istilah ini diperkenalkan pada sebuah konferensi berjudul 'Dartmouth Summer Research Project on Artificial Intelligence (DSRPAI)' tahun 1956 di Dartmouth College, Hanover, New Hampshire, USA. Jauh sebelum istilah ini diperkenalkan, beberapa ilmuwan dan ahli komputer telah membayangkan bagaimana menciptakan mesin yang bisa berpikir dan melakukan berbagai percobaan untuk menciptakannya. Marvin Minsky, John McCarthy dan sejumlah rekan ilmuwan yang menghadiri konferensi tersebut menjadi semakin optimis tentang perkembangan AI di masa mendatang.
Perkembangan AI memiliki masa pasang dan surut. 1957 - 1974 menjadi masa keemasan pertama bagi perkembangan AI dimana dana untuk penelitian (baik swasta maupun pemerintah) mengalir deras dan sejumlah penemuan/penciptaan yang fenomenal (bisa juga dianggap sebagai milestone / pencapaian) terjadi. Pada 1966, Joseph Weizenbaum seorang ilmuwan dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) menciptakan chatbot (robot chatting / AI yang berinteraksi dengan manusia lewat teks) yang dinamai ELIZA, di mana chatbot ini juga dapat berperan sebagai psikoterapis. Penemuan ini segera disusul oleh Stanford University pada 1972, melalui karya dari Ted Shortliffe bernama MYCIN yang menciptakan AI yang ditanamkan pengetahuan medis sehingga dapat membantu dokter pada proses diagnosa maupun pengobatan penyakit.
Mulai 1974, perkembangan dunia AI mulai menghadapi masa-masa struggling. Hal ini salah satunya dipicu oleh kurangnya kemampuan hardware kala itu untuk terus berpacu dengan kemampuan otak manusia, yang diperkirakan memiliki daya ingat hingga 2.5 petabytes belum termasuk kemampuan memproses data yang sangat cepat. Di sisi lain, pendanaan dari entitas pemerintahan seperti DARPA pun mulai berkurang drastis, sehingga terjadi yang disebut sebagai "AI winter" atau masa kebekuan.
1980 menjadi masa awal di mana popularitas AI perlahan mulai bangkit, yang disebabkan oleh 2 hal, yaitu: adanya pendanaan besar-besaran oleh pemerintah Jepang untuk kegiatan yang mereka sebut sebagai Fifth Generation Computer Project (FGCP) dan di sisi lain, tepatnya di Inggris, John Hopfield dan David Rumelhart memperkenalkan sebuah algoritma baru yang mereka sebut sebagai “deep learning” yang memungkinkan mesin untuk belajar dan berpikir dengan lebih mendekati cara kerja otak manusia. Kedua hal tersebut ternyata cukup sukses untuk menarik perhatian pemerintah negara-negara besar untuk kembali mengucurkan dana besar-besaran untuk riset pengembangan AI, namun sayangnya, apa yang menjadi bayangan mereka tidak terwujud hingga tahun 1993. Untungnya euforia dan efek tidak langsung dari pendanaan massal tersebut, ada sejumlah generasi muda (kala itu) yang tertarik minatnya untuk terus mengembangkan AI (terlepas dari pendanaan yang kemudian kembali menyusut).
Tahun 1997 menjadi titik tonggak baru dalam sejarah perkembangan AI. Juara dunia catur, Garry Kasparov dikalahkan oleh AI buatan IBM bernama DeepBlue. Perlahan tapi pasti AI terus berkembang dan digunakan dalam berbagai sektor. September 2010, DeepMind sebuah perusahaan berbasis teknologi AI berdiri dan kemudian bergabung ke Google pada 2014. Dari tangan para ahli di DeepMind inilah kemudian pada 2015 lahir AI baru bernama AlphaGo yang kemudian sukses mengalahkan sejumlah juara dunia dalam pertandingan Go / Weiqi (permainan klasik dari Cina yang diakui jauh lebih kompleks daripada catur). AI generasi baru ini kemudian dipublikasikan dalam sebuah jurnal berkode Alpha Zero disusul dengan serangkaian paper/artikel mengenai AI yang sudah diuji dan dikembangkan oleh tim dari DeepMind.
Hari ini, AI sudah digunakan hampir pada semua benda. AI ditanamkan pada berbagai benda untuk mempermudah kehidupan manusia. Mulai dari peralatan rumah tangga, seperti AC, kulkas, mesin cuci, hingga kendaraan juga telah dilengkapi AI, sehingga manusia yang 'menunggangi'nya dapat bersantai selama dalam perjalanan.
-----------------------
Dikutip dan disarikan dari berbagai sumber