Beberapa bulan terakhir, kita sudah mendengar kabar bahwa salah satu operator komunikasi di Indonesia tengah mempersiapkan infrastruktur jaringan 5G. Persiapan infrastruktur ini diharapkan akan rampung dalam beberapa tahun ke depan. Demikian juga Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Bapak Rudiantara, meyakini 5G baru akan menyambangi pasar konsumen Indonesia pada 2024. Namun, memang untuk tahap awal dinilai sebaiknya fokus untuk industri alias fokus pada B2B (Bussiness to Bussiness).
Jaringan 5G sendiri adalah versi pembaruan dari jaringan internet bergerak / untuk smartphone yang menawarkan kecepatan jauh melampau 4G yang saat ini sudah digunakan. Secara teori kecepatan 5G ini nantinya akan mampu melebihi angka 1Gbps, sementara kecepatan maksimal (dalam teori) untuk 4G hanya 350Mbps. Jadi bisa dibilang 4x lebih tinggi dari 4G, baik untuk kecepatan download maupun upload.
Teknologi 5G ini, diharapkan mampu membawa banyak perubahan, khususnya sehubungan dengan IoT. Benda-benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi dengan kontrol otomatis berbasis Artificial Intelegence (AI) tentu saja membutuhkan kecepatan internet yang tinggi dan dukungan latency yang sangat rendah. Contohnya saja self-driving car alias mobil otomatis. Ketika teknologi AI dalam mobil tersebut kemudian terhubung dengan sistem kontrol yang lebih besar lagi melalui jaringan internet saat ini, dari uji coba para ilmuwan, ada delay sekitar 5 detik dari sejak perintah 'rem' atau berhenti dikirimkan dari pusat kontrol. Tentu saja ini menjadi hal yang sangat berbahaya ketika kecepatan mobil sudah di atas 50 km/jam. Karenanya salah satu poin penting dan sangat diharapkan dari 5G adalah rendahnya latency sehingga mengurangi delay (tenggat waktu) pengiriman data melalui jaringan internet.
Sayangnya, selain sejumlah kelebihan, teknologi 5G juga memiliki kekurangan. Salah satunya adalah jarak yang bisa dicapai / jarak jangkauan yang lebih pendek dibanding 4G. 4G menggunakan frekuensi di bawah 6Ghz sedangkan 5G berada pada frekuensi 30-300Ghz. Efeknya tentu saja para provider perlu memasang lebih banyak lagi BTS (dengan jarak yang lebih berdekatan) di mana masing-masing BTS ini perlu dihubungkan dengan kabel fiber optic. Ya, biaya yang relatif besar, sehingga menjadi sangat masuk akal ide Kemenkominfo untuk memprioritaskan 5G bagi industri terlebih dahulu; Dan semoga bisa segera terwujud di Indonesia.