1. Walmart
    Walmart adalah salah satu perusahaan retail terbesar dari US. Perusahaan ini memiliki toko baik secara offline (lebih dari 11.000 toko yang tersebar di sejumlah negara) maupun online store.
    Walmart menggunakan (dan terus mengembangkan) AI (Artificial Intelegence) untuk berbagai keperluan bisnisnya. Jika kita lihat dari WalmartLabs.com, yang merupakan salah satu website kepunyaan Walmart khusus membahas tentang IT, bisa diketahui bahwa Walmart memanfaatkan AI untuk forecasting supply-chain dan pengelolaan konsumen. Forecasting supply-chain tentu saja adalah hal yang sangat vital bagi perusahaan dengan ribuan toko ini; karenanya dengan penggunaan AI, perusahaan dapat memperikirakan kapan ketersediaan stok di sebuah toko habis dan butuh pengisian ulang termasuk di dalamnya kalkulasi berapa lama hingga barang bisa tiba di sana. Lebih hebatnya lagi, Walmart menghubungkan teknologi ini dengan sejumlah robot yang secara fisik melakukan pekerjaan-pekerjaan logistik seperti: penataan barang dan pemeriksaan stok.

  2. Amazon
    Amazon adalah perusahaan retail besar yang juga berasal dari Amerika. Berbeda dengan Walmart, Amazon memulai usahanya justru dari online shop dan baru tahun 2015 Amazon mulai membuka toko offline (toko buku). Amazon adalah retailer pertama yang menerapkan konsep toko cashierless, di mana pembeli tidak perlu mengantri di kasir saat akan melakukan pembayaran karena sudah ada sejumlah mesin yang secara otomatis akan memeriksa barang dan secara digital memotong saldo pada aplikasi di smart phone milik pembeli.
    Selain cashier-less, gerai yang dibuka di US ini juga minim karyawan. Untuk penataan rak, pengecekan barang, dan keperluan lainnya, dipergunakan sejumlah robot yang akan mengerjakan semua tugas tersebut. Hebatnya lagi, pada masing-masing rak juga telah ditempatkan sejumlah sensor dan teknologi yang memungkinkan sistem untuk mengetahui barang apa saja yang sudah diambil oleh seseorang dari rak. Hal ini tentu saja berguna untuk mencegah terjadinya pencurian barang.
    Di sisi lain, online marketplace milik Amazon, sudah sejak lama dikenal karena kemampuannya untuk merekam jejak pencarian dan pola transaksi konsumen. Pola yang didapat dari hasil learning tersebut kemudian diterapkan untuk memberika product sugestion yang tentu saja mendorong minat konsumen untuk terus bertransaksi.

  3. Alibaba Group (Alibaba, AliExpress, Taobao, Tmall)
    Alibaba mulai menjalankan bisnisnya pada 1999, perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma ini bergerak di bidang whole-sales alias grosir. Tujuan awalnya simpel yakni menggerakkan market Cina dengan menjual produk UKM di Cina ke luar negeri. Pada 2002, Alibaba berhasil menjadi perusahaan yang menguntungkan. Berbekal kesuksesan awal inilah, Alibaba terus bertumbuh dan mulai merambah sektor retail pada 2003 melalui salah satu anak perusahannya Taobao.
    Taobao adalah marketplace retail C2C (consumer-to-consumer) berbahasa Cina ini terbukti cukup kuat untuk menandingi E-Bay yang kala itu baru membuka cabangnya di wilayah Cina. Strategi Taobao yang tidak menarik fee sedikit pun dari seller-nya digabung dengan desain website yang kaya akan kearifan lokal dan sistem pembayaran eskro yang aman (Alipay) terbukti ampuh untuk membuat E-Bay tumbang dan hengkan dari Cina pada 2006.
    Pada 2004, Alibaba memperkenalkan sistem pembayaran digital Alipay. Awalnya sistem ini hanya merupakan eskro yang membantu pihak-pihak yang bertransaksi agar lebih aman, uniknya sistem ini gratis, sehingga masyarakat Cina pun beramai-ramai menggunakannya. Dan mulai 2010, gebrakan besar-besaran dari Alipay dimulai, sistem ini tidak lagi sekedar menjadi eskro namun berevolusi menjadi sistem pembayaran. Dari sinilah Alibaba group pun mulai merambah sektor fintech.

  4. JD
    Jingdong Century Trading Co., Ltd didirikan pada bulan Juni 1998. Perusahaan yang berpusat di Beijing ini awalnya hanya berfokus pada penjualan peralatan magneto-optical (disket) yang kala itu sangat populer. Seiring berjalannya waktu, JD berevelousi menjadi sebuah online toserba pada 2004. Dan kemudian berevolusi lagi menjadi sebuah online marketpace (2008) yang bersaing ketat dengan Alibaba (khususnya Taobao dan TMall).
    Hal menarik dari JD selain online payment Wepay (yang merupakan hasil kerjasama dengan Wechat milik Tencent), adalah penggunaan teknologi drone. JD menggunakan drone yang dilengkapi dengan sistem AI canggih untuk melakukan pengiriman barang menuju ke lokasi konsumen di Cina mulai tahun 2017. Belakangan JD mengembangkan sistem pengirimannya semakin canggih, armada robot dan driver-less transportation seperti autonomous truck pun dipergunakan.